Dalam remaja melalui budaya membaca dan menulis. Ikhtiar pemerintah

Dalam hal sadar membaca dan menulis untuk generasi muda, pemerintah sebenarnya sudah memulai dengan misalnya sejak akhir tahun 2015. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan sebuah program unggulan bernama Gerakan Literasi Bangsa (GLB) yang mempunyai tujuan untuk menumbuhkan budi pekerti remaja melalui budaya membaca dan menulis. Ikhtiar pemerintah melahirkan kebijakan tersebut tentu sebuah niat yang baik. Hanya saja, ketika sebuah kebijakan hanya sebagai formalitas dan program kerja saja, tentu tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal. Pemerintah seharusnya juga mengawal sekaligus mengevaluasi program tersebut, sehingga program dapat berjalan dengan maksimal dan sesuai dengan kondisi di lapangan4.Salah satu contohnya seperti mendorong dan mengintervensi lembaga pemerintah dan lembaga swasta, yang memiliki ruang tunggu untuk pro aktif menyediakan bahan bacaan, seperti kantor koperasi, kelurahan, kecamatan, puskesmas, atau lembaga-lembaga sejenis lain5, yang meniscayakan pengunjungnya untuk menunggu, bukan menyediakan televisi di ruang tunggu. Ini memang bukan hal mudah, melainkan harus dipaksa untuk terbiasa membaca. Sehingga, ketika tempat-tempat tersebut difasilitasi ruang baca yang baik, maka waktu menunggu bisa dimanfaatkan untuk membaca.Dr. Roger Farr (1984) menyebut bahwa “reading is the heart of education”. Membangun Budaya Sadar Literasi Dr. Ngainun Naim, dalam buku “Geliat Literasi (2015)”, dalam kata pengantarnya menulis, bahwa untuk menciptakan kemajuan peradaban suatu daerah salah satunya dengan menumbuhkembangkan tradisi literasi6.4 Prayitno, 2010, Modul, Pendidik Profesional, Universitas Negeri Padang5 hartono, Suparlan. 2006. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz.6 Danim, Sudarwan. 2003. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar5Dalam konteks ini, generasi muda yang merupakan generasi pembelajar seharusnya dapat mengambil peran aktif yang menjadi motor penggerak untuk melajunya budaya sadar literasi di lingkungannya masing-masing agar lebih massif. Tentang literasi, khususnya menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran seseorang lebih tertata, membuat seseorang bisa merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, mengefektifkan atau membuat seseorang memiliki sugesti positif, membuat seseorang semakin pandai memahami sesuatu (menajamkan pemahaman), meningkatkan daya ingat, lebih mengenali diri sendiri, mengalirkan diri, membuang kotoran diri, merekam momen mengesankan yang dialami7, meninggalkan jejak pikiran yang sangat jelas, memfasihkan komunikasi, memperbanyak kosa-kata, membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan pengetahuan. Bahkan berdasarkan riset yang yang dilansir baru-baru ini di Eropa bahwa dengan membaca dapat mengurangi dua kali risiko terserang penyakit Alzheimer (pikun)8.Artinya, budaya literasi memang sangat penting, sehingga ketika generasi muda jauh dari budaya literasi, jangan salahkan anak cucu, jika mereka lebih mengenal Taylor Swift, Demi Lovato, Justin Bieber, dan lainnya dibanding Soekarno, HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Tan Malaka, atau tidak tahu sejarah bangsa dan tidak hafal pancasila. Hal itu bukanlah karena tidak ada literatur yang mengulas seputar itu, namun, kebiasaan ini yang tidak ditanamkan sejak dini. Di negara ini, kebanyakan orang membaca buku demi kepraktisan.Kebanyakan orang membaca buku agama karena ingin tahu cara masuk surge dan kebanyakan orang baca buku panduan bisnis karena ingin kaya. Padahal, ada dimensi lain tentang membaca, yakni belajar empati dan perspektif9. Masyarakat perkotaan bisa tahu soal kehidupan di desa, misalnya. Lewat baca buku juga bisa mengetahuikrhidupan LGBT, misalnya, dan banyak hal lain yang terjadi dalam hidup ini yang tidak terjadi pada kehidupan pribadi seseorang. Pengakuan dan pandangannya mewakili kondisi banyak warga Indonesia yang tidak menyadari betapa pentingnya membaca, terutama karya sastra. Tidak ada yang mampu menyangkal tingkat literasi di Indonesia masih amat rendah.7 Firdaus, LN. 2010, Powerful the Points of Guru, Pekanbaru, UNRI Pres.8 Sidi, Indra Djati. 2001. Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Paramadina9 Jalaluddin dan Usman Said. 1994. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Radja Grafindo Persada.6b. Paradigma PendidikanFrietz R. Tambunan dalam nmenjelaskan bahwa kata pendidikan berasal dari kata Latin, yaitu educare yang secara harfiah memiliki arti “menarik ke luar dari” sehingga dapat dijelaskan bahwa pendidikan merupakan sebuah aksi membawa peserta didik keluar dari kondisi tidak merdeka, tidak dewasa, dan bergantung, ke suatu situasi merdeka, dewasa, dapat menentukan diri sendiri, dan bertanggung jawab.Pendidikan yang demokratis tidak bertujuan menciptakan manusia siap kerja, tetapi membentuk manusia matang dan berwatak yang siap belajar terus-menerus, siap menciptakan lapangan kerja (job creator), dan siap mengadakan transformasi sosial karena sudah terlebih lebih dahulu mengalami transformasi diri lewat pendidikan. Maka pendidikan adalah sebuah proses pedagogis di mana seorang peserta didik dibebaskan dari ketidakmatangan dan kebodohan menjadi seorang manusia matang, intelek, dan kultural.